Friday, October 17, 2014

Arsitektur Telematika



Struktur desain komputer dan semua rinciannya, seperti sistem sirkuit, chip, bus untuk ekspansi slot, BIOS merupakan pengertian dari Arsitektur Telematika. Tiga elemen utama sebuah arsitektur, masing-masing sering dianggap sebagai arsitektur, adalah:

1. Arsitektur sistem pemrosesan
menentukan standar teknis untuk hardware, lingkungan sistem operasi, dan software aplikasi, yang diperlukan untuk menangani persyaratan pemrosesan informasi perusahaan dalam spektrum yang lengkap. Standar merupakan format, prosedur, dan antar muka, yang menjamin bahwa perlengkapan dan software dari sekumpulan penyalur akan bekerja sama.

2. Arsitektur telekomunikasi dan jaringan
menentukan kaitan di antara fasilitas komunikasi perusahaan, yang melaluinya informasi bergerak dalam organisasi dan ke peserta dari organisasi lain, dan hal ini juga tergantung dari standar yang berlaku.

3. Arsitektur data
sejauh ini merupakan yang paling rumit diantara ketiga arsitektur di atas, dan termasuk yang relatif sulit dalam implementasinya, menentukan organisasi data untuk tujuan referensi silang dan penyesuaian ulang, serta untuk penciptaan sumber informasi yang dapat diakses oleh aplikasi bisnis dalam lingkup luas.

Model arsitektur telematika yang terdiri dari client dan server. Pengertian client-server merupakan sebuah paradigma dalam teknologi informasi yang merujuk kepada cara untuk mendistribusikan aplikasi ke dalam dua pihak, yiatu pihak client dan pihak server. 15 tahun sejak diperkenalkan client-server telah menjadi pilihan dalam arsitektur aplikasi. Client-server diaplikasikan pada aplikasi mainframe yang sangat besar untuk membagi beban proses loading antara client dan server. Sebagai dampaknya client-server telah mengubah cara atau pola pikir kita dalam mendesain dan membangun aplikasi. Dan ini sangat membantu end-user dalam peng-harapan tentang “the look and feel” dari multiuser software.


Arsitektur Sisi Client
Arsitektur Client merujuk pada pelaksanaan atau penyimpanan data pada browser (atau klien) sisi koneksi HTTP. JavaScript adalah sebuah contoh dari sisi klien eksekusi, dan cookie adalah contoh dari sisi klien penyimpanan.
Karakteristik Klien :
  • Memulai terlebih dahulu permintaan ke server.
  • Menunggu dan menerima balasan.
  • Terhubung ke sejumlah kecil server pada waktu tertentu.
  • Berinteraksi langsung dengan pengguna akhir, dengan menggunakan GUI.
Arsitektur Sisi Server
Sebuah eksekusi sisi server adalah server Web khusus eksekusi yang melampaui standar metode HTTP itu harus mendukung. Sebagai contoh, penggunaan CGI script sisi server khusus tag tertanam di halaman HTML; tag ini memicu tindakan terjadi atau program untuk mengeksekusi.
Karakteristik Server:
  • Selalu menunggu permintaan dari salah satu klien.
  • Melayani klien permintaan kemudian menjawab dengan data yang diminta ke klien.
  • Sebuah server dapat berkomunikasi dengan server lain untuk melayani permintaan klien.
  • Jenis-jenisya yaitu : web server, FTP server, database server, E-mail server, file server, print server. Kebanyakan web layanan ini juga jenis server.

Kolaborasi Client – Server
1. Standalone (one-tier)
Pada arsitektur ini semua pemrosesan dilakukan pada mainframe. Kode aplikasi, data dan semua komponen sistem ditempatkan dan dijalankan pada host. Walaupun komputer client dipakai untuk mengakses mainframe, tidak ada pemrosesan yang terjadi pada mesin ini, dan karena mereka “dump-client” atau “dump-terminal”. Tipe model ini, dimana semua pemrosesan terjadi secara terpusat, dikenal sebagai berbasis-host. Sekilas dapat dilihat kesalahan pada model ini. Ada dua masalah pada komputasi berbasis host: Pertama, semua pemrosesan terjadi pada sebuah mesin tunggal, sehingga semakin banyak user yang mengakses host, semakin kewalahan jadinya. Jika sebuah perusahaan memiliki beberapa kantor pusat, user yang dapat mengakses mainframe adalah yang berlokasi pada tempat itu, membiarkan kantor lain tanpa akses ke aplikasi yang ada.

Pada saat itu jaringan sudah ada namun masih dalam tahap bayi, dan umumnya digunakan untuk menghubungkan terminal dump dan mainframe. Internet baru saja dikembangkan oleh pemerintah US dan pada saat itu dikenal sebagai ARPANET. Namun keterbatasan yang dikenakan pada user mainframe dan jaringan telah mulai dihapus.

2. Client/Server (two-tier)
Dalam model client/server, pemrosesan pada sebuah aplikasi terjadi pada client dan server. Client/server adalah tipikal sebuah aplikasi two-tier dengan banyak client dan sebuah server yang dihubungkan melalui sebuah jaringan. Aplikasi ditempatkan pada komputer client dan mesin database dijalankan pada server jarak-jauh. Aplikasi client mengeluarkan permintaan ke database yang mengirimkan kembali data ke client-nya.

Dalam client/server, client-client yang cerdas bertanggung jawab untuk bagian dari aplikasi yang berinteraksi dengan user, termasuk logika bisnis dan komunikasi dengan server database. Tipe-tipe tugas yang terjadi pada client adalah :
  • Antarmuka pengguna
  • Interaksi database
  • Pengambilan dan modifikasi data
  • Sejumlah aturan bisnis
  • Penanganan kesalahan
Server database berisi mesin database, termasuk tabel, prosedur tersimpan, dan trigger (yang juga berisi aturan bisnis). Dalam sistem client/server, sebagian besar logika bisnis biasanya diterapkan dalam database. Server database manangani :
  • Manajemen data
  • Keamanan
  • Query, trigger, prosedur tersimpan
  • Penangan kesalahan
Arsitektur client/server merupakan sebuah langkah maju karena mengurangi beban pemrosesan dari komputer sentral ke komputer client. Ini berarti semakin banyak user bertambah pada aplikasi client/server, kinerja server file tidak akan menurun dengan cepat. Dengan client/server user dair berbagai lokasi dapat mengakses data yang sama dengan sedikit beban pada sebuah mesin tunggal. Namun masih terdapat kelemahan pada model ini. Selain menjalankan tugas-tugas tertentu, kinerja dan skalabilitas merupakan tujuan nyata dari sebagian besar aplikasi. Model client/server memiliki sejumlah
keterbatasan :
  • Kurangnya skalabilitas
  • Koneksi database dijaga
  • Tidak ada keterbaharuan kode
  • Tidak ada tingkat menengah untuk menangani keamanan dan transaksi
Aplikasi-aplikasi berbasis client/server memiliki kekurangan pada skalabilitas. Skalabilitas adalah seberapa besar aplikasi bisa menangani suatu kebutuhan yang meningkat – misalnya, 50 user tambahan yang mengakses aplikasi tersebut. Walaupun model client/server lebih terukur daripada model berbasis host, masih banyak pemrosesan yang terjadi pada server. Dalam model client/server semakin banyak client yang menggunakan suatu aplikasi, semakin banyak beban pada server.
Koneksi database harus dijaga untuk masing-masing client. Koneksi menghabiskan sumber daya server yang berharga dan masing-masing client tambahan diterjemahkan ke dalam satu atau beberapa koneksi. Logika kode tidak bisa didaur ulang karena kode aplikasi ada dalam sebuah pelaksanaan executable monolitik pada client. Ini juga menjadikan modifikasi pada kode sumber sulit. Penyusunan ulang perubahan itu ke semua komputer client juga membuat sakit kepala.
Keamanan dan transaksi juga harus dikodekan sebagai pengganti penanganan oleh COM+/MTS. Bukan berarti model client/server bukanlah merupakan model yang layak bagi aplikasi-aplikasi. Banyak aplikasi yang lebih kecil dengan jumlah user terbatas bekerja sempurna dengan model ini. Kemudahan pengembangan aplikasi client/server turut menjadikannya sebuah solusi menarik bagi perusahaan.
Pengembangan umumnya jauh lebih cepat dengan tipe sistem ini. Siklus pengembangan yang lebih cepat ini tidak hanya menjadikan aplikasi meningkat dan berjalan dengan cepat namun juga lebih hemat biaya.

3. Three-Tier / Multi-Tier
Model three-tier atau multi-tier dikembangkan untuk menjawab keterbatasan pada arsitektur client/server. Dalam model ini, pemrosesan disebarkan di dalam tiga lapisan (atau lebih jika diterapkan arsitektur multitier). Lapisan ketiga dalam arsitektur ini masing-masing menjumlahkan fungsionalitas khusus. Yaitu :
  • Layanan presentasi (tingkat client)
  • Layanan bisnis (tingkat menengah)
  • Layanan data (tingkat sumber data)
Layanan presentasi atau logika antarmuka pengguna ditempatkan pada mesin client. Logika bisnis dikeluarkan dari kode client dan ditempatkan dalam tingkat menengah. Lapisan layanan data berisi server database. Setiap tingkatan dalam model three-tier berada pada komputer tersendiri. Konsep model three-tier adalah model yang membagi fungsionalitas ke dalam lapisan-lapisan, aplikasiaplikasi mendapatkan skalabilitas, keterbaharuan, dan keamanan.

Sumber : http://aditpato7.wordpress.com/2011/10/26/arsitektur-telematika/
               http://dim24.wordpress.com/2011/10/20/arsitektur-telematika/

Thursday, October 9, 2014

Telematika dan Arah Perkembangan di Masa Depan


Telematika serta pemanfaatannya
Perpaduan antara TELEKOMUNIKASI dan INFORMATIKA menghasilkan konsep komputerisasi dan komunikasi yang dikenal dengan istilah TELEMATIKA. Istilah Telematika juga dikenal dengan “The New Hybrid Technology” yang memiliki arti “yang lahir karena perkembangan teknologi”. Perkembangan tersebut memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin terpadu atau popular dengan istilah konvergensi. Lebih jauh lagi istilah Telematika merujuk pada perkembangan konvergensi antara teknologi telekomunikasi, media dan informatika yang semula berkembang secara masing-masing. Dalam telematika, istilah media berkembang menjadi multimedia karena dapat diterapkan dilebih dari satu media.
Pemanfaatan Telematika khususnya di Indonesia sudah sangat melekat di kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini tercermin dari gaya hidup, pola ekonomi, serta gaya berbisnis. Selain itu telematika juga dapat dilihat pemanfaatannya diberbagai bidang, diantaranya yaitu:
-        -  Pendidikan
-        -  Industri
-        -  Pemerintahan
-        -  Politik
-        -  Sosial
-        -  Bisnis
-        -  Hiburan
-        -  Kesehatan
-        -  Militer
-        -  Keuangan


Perkembangan telematika dalam teknologi informasi serta contoh nyata penggunaannya
Istilah telematika pertama kali digunakan pada tahun 1978 oleh Simon Nora dan Alain Minc dalam  bukunya yang berjudul “L’Informatisation De La Societe”. Perkembangan telematika mengalami tiga periode berdasarkan fenomena yang terjadi di masyarakat, khususnya di Indonesia. Pertama adalah periode rintisan yang berlangsung akhir tahun 1970-an sampai dengan akhir tahun 1980-an. Periode kedua disebut pengenalan, rentang wktunya adalah tahun 1990-an, dan yang terakhir adalah periode aplikasi yang dimulai tahun 2000.
1. Periode Rintisan
Pada periode ini, teknologi informasi, telekomunikasi, multimedia, mulai dilakukan. Jaringan telpon, saluran televisi nasional, stasiun radio nasional dan internasional, dan komputer mulai dikenal di Indonesia, walaupun penggunanya masih terbatas karena pasokan listrik yang kurang memadai. Contoh nyata penggunaan telematika pada periode ini adalah saluran telepon yang memungkinkan penggunanya berkomunikasi secara 2 arah.

2. Periode Pengenalan
Periode ini dimulai pada tahun 1990-an, teknologi telematika sudah banyak digunakan dan masyarakat mengenalnya. Jaringan radio amatir yang jangkauannya sampai ke luar negeri banyak pada awal tahun 1990. Internet masuk ke Indonesia pada tahun 1994, dan milis adalah salah satu bagian dari sebuah web. Penggunanya tidak terbatas pada kalangan akademisi, akan tetapi sampai ke meja kantor. Teknologi telematika, seperti komputer, internet, pager, handphone, teleconference, siaran radio dan televisi internasional – tv kabel Indonesia, mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia. Contoh nyata penggunaan telematika pada periode ini adalah bermunculannya televise swasta seperti RCTI dan SCTV.

3. Periode Aplikasi
Pada periode ini, pemerintah Indonesia serius menaggapi perkembangan telematika dalam bentuk keputusan politik. Kebijakan pengembangan yang sifatnya formal “top-down” direalisasikan dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 50 Tahun 2000 tentang Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI), dan Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2001 tentang Pendayagunaan Telematika. Teknologi mobile phone begitu cepat pertumbuhannya. Bukan hanya dimiliki oleh hamper seluruh lapisan masyarakat Indonesia, fungsi yang ditawarkan terbilang canggih. Contoh nyata penggunaan telematika pada periode ini adalah mobilephone atau smartphone yang dapat terkoneksi dengan internet juga stasiun televise, dan teleconference melalui 3G.


Arah perkembangan telematika di masa yang akan datang
Perkembangan telematika dari periode rintisan(1970-an), periode pengenalan(1990-an), dan periode aplikasi(2000-an) telah mengalami perubahan yang signifikan. Sebagai contoh tampilan layar televisi masih berwarna hitam putih pada tahun 1980-an, tetapi pada tahun 2000-an tampilan layar televisi sudah berwarna. Bahkan sekarang para produsen televisi ternama telah membuat SmartTV yang bisa terkoneksi dengan internet. Perkembangan telematika di masa  yang akan datang tidak akan lepas dari permintaan kebutuhan manusia yang meningkat dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari. Hal inil tidak menutup kemungkinan dunia akan memasuki periode robotic yang memungkinkan robot mengerjakan tugas-tugas manusia. Perlu diwaspadai juga hal tersebut dapat mengurangi tenaga kerja. Diharapkan sebagai generasi muda, kita dapat memanfaatkan perkembangan telematika ini dengan bijak.

Sumber :  http://wyoeholic.wordpress.com/2010/10/06/artikel-perkembangan-telematika/
                http://suciptoardi.wordpress.com/2008/05/15/perkembangan-telematika-di-indonesia/
                http://rappi-kama.blogspot.com/2011/12/makalah-perkembangan-telematika-di.html

Thursday, April 3, 2014

Bibliografi

Bibliografi berasal dari bahasa yunani yaitu bibliographia yang berarti penulisan buku. bibliografi berarti kegiatan teknis membuat deskripsi untuk suatu cantuman tertulis atau pustaka yang telah diterbitkan, yang tersusun secara sistematik berupa daftar menurut aturan yang dikehendaki. Dengan demikian tujuan bibliofrafi adalah untuk mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumlah buku/pustaka yang pernah diterbitkan.

Unsur-Unsur Bibliografi dan Contoh Penulisannya:
  • Nama Pengarang, yang dikutip secara lengkap
  • Judul Buku, termasuk judul tambahannya.
  • Data Publikasi: penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan ke berapa, nomor jilid buku dan tebal (jumlah halaman) buku tersebut.
  • Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, atau surat kabar, tanggal dan    tahun.


 Penyusunan Bibliografi
  • Nama pengarang diurutkan berdasarkan urutan abjad.
  • Jika tidak ada nama pengarang, judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan abjad.
  • Jika untuk seorang pengarang terdapat lebih dari satu bahan refrensi, untuk refrensi kedua dan seterusnya, nama pengarang tidak diikutsertakan, tetapi diganti dengan garis sepanjang 5 atau 7 ketikan.
  • Jarak antara baris dengan baris untuk satu refrensi adalah satu spasi. Namun, jarak antara pokok dengan pokok lain adalah dua spasi.
  • Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak tiga atau empat ketikan.


Jenis-Jenis Bibliografi
Dari segi cara penyajian dan uraian deskripsinya, bibliografi dibagi menjadi:
  • Bibliogrfi deskriptif, yaitu bibliografi yang dilengakapi deskripsi singkat yang didapat dari gambaran fisik yang tertera atau tertulis dalam bahan pustaka. Seperti judul buku atau majalah, judul artikel, nama pengarang, data terbitan (impresium), kolasi serta kata kunci dan abstrak yang tertulis.
  • Bibliografi evaluatif, yaitu bibliografi yang dilengkapi dengan evaluasi tentang suatu bahan pustaka. Evaluasi ini biasanya mencakup penilaian terhadap isi suatu bahan pustaka atau artikel.


Cakupan Bibliografi
Dari segi cakupanya, bibliografi dapat dibagi menjadi:
  • Bibliografi retrospektif, yaitu jenis bibliografi yang mencatat bahan pustaka yang telah diterbitkan pada jaman yang lampau. Misalnya “Bibliografi sejarah perang Dipenogoro”
  • Bibliografi terkini/current, yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan yang sedang atau masih terbit saat ini. Contohnya Ulrich’s International Periodicals Directory.
  • Bibliografi selektif, yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan tertentu dengan tujuan tertentu. Misalnya “Buku bacaan terpilih untuk anak usia pra sekolah”.
  • Bibliografi subjek, yaitu jenis bibliografi yang mencatat bahan pustaka atau artikel pada bidang ilmu dan subjek tertentu. Misalnya “Bibliografi khusus ternak kelinci”.
  • Biliografi nasional, yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan suatu negara atau daerah regional tertentu. Contohnya “Bibliografi Nasional Indonesia”.


Penentuan cakupan/topik suatu bibliografi ditentukan berdasarkan berbagai pertimbangan antara lain :
  • Permintaan pengguna
  • Topik yang sedang berkembang atau yang banyak diperlukan saat itu
  • Dokumentasi koleksi yang dimiliki
  • Mandat instansi


Bagian-bagian Bibliografi
Suatu deskripsi bibliografi biasanya terdiri dari :
  • Judul : berisi judul artikel atau judul buku yang akan dideskripsikan
  • Kepengarangan : berisi nama pengarang perorangan atau pengarang badan korporasi
  • Sumber : berisi judul jurnal, judul prosiding, atau judul buku dimana informasi tersebut berada.
  • Data terbitan (impresium): berisi data tentang kota terbit, nama terbit, dan tahun terbit
  • Keterangan fisik buku (kolasi), yang berisi halaman lokasi artikel ditemukan.
  • Keterangan informasi, seperti kata kunci dan abstrak
  • Keterangan tambahan , seperti lokasi rak penyimpanan, kode call number, perpustakaan pemilik bahan pustaka, dan sebagainya


Manfaat Bibliografi
Pencatatan informasi mengenai koleksi perpustakaan dalam bentuk bibliografi dilakukan dengan berbagai alasan antara lain:
  • Jumlah koleksi perpustakaan yang semakin meningkat bentuk dan bidang kajiannya
  • Kebutuhan informasi para pengguna yang semakin beragam dan meningkat jumlahnya
  • Upaya untuk meningkatkan kualitas layanan penelusuran informasi yang cepat dan tepat


Contoh bibliografi:
Kadir, Abdul. 2008. Dasar Pemrograman Web Dinamis Menggunakan PHP, Yogyakarta : Penerbit Andi.

Friday, March 14, 2014

Catatan Kaki & Kutipan

Catatan Kaki

Catatan kaki adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab karangan ilmiah. Catatan kaki biasa digunakan untuk memberikan keterangan dan komentar, untuk menjelaskan sumber kutipan atau sebagai pedoman penyusunan daftar bacaan yang biasanya digunakan untuk menghargai karya orang lain.

Jenis-jenis Catatan Kaki:
1.      Ibid
Ibid singkatan dari Ibidium yang berarti “sama dengan di atas”.
Beberapa catatan mengenai penggunaan ibid:
·         Digunakan untuk menulis catatan kaki yang sumbernya sama dengan catatan kaki yang tepat di atasnya.
·         Tidak dipakai apabila telah ada catatan kaki lain yang menyelingnya.
·         Diketik atau ditulis dengan huruf capital pada awal kata, dicetak miring, dan diakhiri titik.
·         Apabila referensi berikutnya berassal dari jiid atau halaman lain, urutan penulisan: Ibid, koma, jilid, halaman.
2.      Op.cit
Op.cit singkatan dari opera cintati, yang artinya “dalam karya yang telah dikutip”.
Beberapa catatan yang terkait dengan penulisan op.cit adalah:
·         Merujuk buku sumber yang telah disebutkan dan diselingi sumber lain.
·         Ditulis dengan huruf kapital pada awal suku kata, dicetak miring, setiap suku diikuti titik.
·         Urutan penulissan: nama pengarang, nama panggilan atau nama family, Op.cit. nama buku, halaman.
3.      Loc.cit
Loc.cit singkatan dari loco cintati, artinya tempat yang telah dikutip.
Beberapa catatan mengenai loc.cit:
·         Digunakan umtuk merunjuk sumber data pustaka yang serupa yang berupa kumpulan esai, jurnal, ensiklopedi, atau majalah; dan telah diselingi sumber lain.
·         Kutipan bersumber pada halaman yang sama kata loc.cit tidak diikuti nomor halaman.
·         Jika halaman berbeda, kata loc.cit diikuti nomor halaman.
·         Menyebutkan nama keluarga pengarang.

Tata Cara Penulisan Catatan Kaki:
1.      Catatan kaki harus dipisahkan dengan garis yang panjangnya empat belas inch dari margin kiri serta berjarak empat spasi dari teks.
2.      Catatan kaki diketik berspasi satu.
3.      Diberi nomer.
4.      Nomer catatan kaki diketik dengan jarak enam inch dari margin kiri.
5.      Bila catatan kakinya lebih dari satu baris, maka baris kedua dan seterusnya serta diawali seperti margin teks biasa (pas pada margin kiri).
6.      Bila ada lebih dari satu catatan kaki, maka jarak pada satu catatan dengan catatan yang lain sama dengan jarak spasi teks.
7.      Jarak baris paling akhir catatan kaki harus 3 cm dari tepi kertas sisi bawah.
8.      Keterangan yang panjang tidak bisa dilanjutkan ke halaman selanjutnya. Sebaiknya potong catatan aslinya dari pada memotong catatan kaki.
9.      Bila keterangan yang sama berurutan (contohnya, keterangan nomor 2 sama juga dengan nomor 3) cukup catatkan kata ibid dari pada mengulang-ulang info catatan kaki.
10.  Bila ada keterangan yang sama namun tidak berurutan, berikanlah keterangan op. cit., lih atau x (nomor keterangan pada umumnya).
11.  Bila keterangan layaknya op.cit namun berisi keterangan perihal artikel, pakai loc. cit. untuk keterangan mengenai referensi artikel atau buku spesifik, penulisannya serupa daftar pustaka, namun nama pengarang tidak dibalik.

Contoh Catatan Kaki:
contoh 1:


contoh 2:


contoh 3 & 4:



Kutipan
Kutipan adalah suatu kata yang mungkin semua orang belum tahu apa maksudnya. Kutipan juga merupakan suatu gagasan, ide, pendapat yang diambil dari berbagai sumber. Proses pengambilan gagasan itu disebut mengutip. Gagasan itu bisa diambil dari kamus, ensiklopedi, artikel, laporan, buku, majalah, internet, dan lain sebagainya.
Tata Cara Penulisan Kutipan:
1.      Kutipan langsung
Kutipan yang kata-katanya utuh dikutip semua dari sebuah naskah oleh penulis tanpa merubah sedikitpun isi dari sebuah naskah tersebut.
a.       Tata cara dalam melakukan kutipan, jika kutipan panjangnya kurang dari empat baris dimasukan kedalam teks:
·         Diketik seperti ketikan teks.
·         Diawali dan diakhir dengan tanda petik.
·         Sumber rujukan ditulis langsung sebelum atau sesudah teks kutipan.
·         Format penulisan diakhiri (Penulis,Tahun:Halaman).
b.      Tata cara dalam melakukan kutipan, jika kutipan panjangnya lebih dari empat baris :
·         Diketik satu spasi.
·         Dimulai tujuh ketukan dari batas tepi kiri.
·         Sumber rujukan  ditulis langsung sebelum teks kutipan.
·   Apabila penulis ingin memberi penjelasan atau menggaris bawahi harus diberi keterangan yang berada diantara tanda kurung.
·         Apabila terdapat kesalahan dalam kutipan dinyatakan menggunakan (sic!).

2.    Kutipan tidak langsung
Kutipan yang kata-katanya diubah/ disesuaikan dengan ringkasan yang dibuat oleh penulis.
1.      Tata cara dalam melakukan kutipan:
                 ·         Kalimat yang mengandung ide kutipan ditulis dengan spasi rangkap.
                 ·         Semua kutipan harus dirujuk.
                 ·         Sumber rujukan dapat ditulis sebelum atau sesudah kalimat yang mengandung                            kutipan.
                 ·         Format penulisan diakhiri (Penulis,Tahun:Halaman).

Contoh Kutipan:


contoh 1:



 contoh 2:


contoh 3: