Thursday, October 9, 2014

Telematika dan Arah Perkembangan di Masa Depan


Telematika serta pemanfaatannya
Perpaduan antara TELEKOMUNIKASI dan INFORMATIKA menghasilkan konsep komputerisasi dan komunikasi yang dikenal dengan istilah TELEMATIKA. Istilah Telematika juga dikenal dengan “The New Hybrid Technology” yang memiliki arti “yang lahir karena perkembangan teknologi”. Perkembangan tersebut memicu perkembangan teknologi telekomunikasi dan informatika menjadi semakin terpadu atau popular dengan istilah konvergensi. Lebih jauh lagi istilah Telematika merujuk pada perkembangan konvergensi antara teknologi telekomunikasi, media dan informatika yang semula berkembang secara masing-masing. Dalam telematika, istilah media berkembang menjadi multimedia karena dapat diterapkan dilebih dari satu media.
Pemanfaatan Telematika khususnya di Indonesia sudah sangat melekat di kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini tercermin dari gaya hidup, pola ekonomi, serta gaya berbisnis. Selain itu telematika juga dapat dilihat pemanfaatannya diberbagai bidang, diantaranya yaitu:
-        -  Pendidikan
-        -  Industri
-        -  Pemerintahan
-        -  Politik
-        -  Sosial
-        -  Bisnis
-        -  Hiburan
-        -  Kesehatan
-        -  Militer
-        -  Keuangan


Perkembangan telematika dalam teknologi informasi serta contoh nyata penggunaannya
Istilah telematika pertama kali digunakan pada tahun 1978 oleh Simon Nora dan Alain Minc dalam  bukunya yang berjudul “L’Informatisation De La Societe”. Perkembangan telematika mengalami tiga periode berdasarkan fenomena yang terjadi di masyarakat, khususnya di Indonesia. Pertama adalah periode rintisan yang berlangsung akhir tahun 1970-an sampai dengan akhir tahun 1980-an. Periode kedua disebut pengenalan, rentang wktunya adalah tahun 1990-an, dan yang terakhir adalah periode aplikasi yang dimulai tahun 2000.
1. Periode Rintisan
Pada periode ini, teknologi informasi, telekomunikasi, multimedia, mulai dilakukan. Jaringan telpon, saluran televisi nasional, stasiun radio nasional dan internasional, dan komputer mulai dikenal di Indonesia, walaupun penggunanya masih terbatas karena pasokan listrik yang kurang memadai. Contoh nyata penggunaan telematika pada periode ini adalah saluran telepon yang memungkinkan penggunanya berkomunikasi secara 2 arah.

2. Periode Pengenalan
Periode ini dimulai pada tahun 1990-an, teknologi telematika sudah banyak digunakan dan masyarakat mengenalnya. Jaringan radio amatir yang jangkauannya sampai ke luar negeri banyak pada awal tahun 1990. Internet masuk ke Indonesia pada tahun 1994, dan milis adalah salah satu bagian dari sebuah web. Penggunanya tidak terbatas pada kalangan akademisi, akan tetapi sampai ke meja kantor. Teknologi telematika, seperti komputer, internet, pager, handphone, teleconference, siaran radio dan televisi internasional – tv kabel Indonesia, mulai dikenal oleh masyarakat Indonesia. Contoh nyata penggunaan telematika pada periode ini adalah bermunculannya televise swasta seperti RCTI dan SCTV.

3. Periode Aplikasi
Pada periode ini, pemerintah Indonesia serius menaggapi perkembangan telematika dalam bentuk keputusan politik. Kebijakan pengembangan yang sifatnya formal “top-down” direalisasikan dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 50 Tahun 2000 tentang Tim Koordinasi Telematika Indonesia (TKTI), dan Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2001 tentang Pendayagunaan Telematika. Teknologi mobile phone begitu cepat pertumbuhannya. Bukan hanya dimiliki oleh hamper seluruh lapisan masyarakat Indonesia, fungsi yang ditawarkan terbilang canggih. Contoh nyata penggunaan telematika pada periode ini adalah mobilephone atau smartphone yang dapat terkoneksi dengan internet juga stasiun televise, dan teleconference melalui 3G.


Arah perkembangan telematika di masa yang akan datang
Perkembangan telematika dari periode rintisan(1970-an), periode pengenalan(1990-an), dan periode aplikasi(2000-an) telah mengalami perubahan yang signifikan. Sebagai contoh tampilan layar televisi masih berwarna hitam putih pada tahun 1980-an, tetapi pada tahun 2000-an tampilan layar televisi sudah berwarna. Bahkan sekarang para produsen televisi ternama telah membuat SmartTV yang bisa terkoneksi dengan internet. Perkembangan telematika di masa  yang akan datang tidak akan lepas dari permintaan kebutuhan manusia yang meningkat dalam melakukan aktifitasnya sehari-hari. Hal inil tidak menutup kemungkinan dunia akan memasuki periode robotic yang memungkinkan robot mengerjakan tugas-tugas manusia. Perlu diwaspadai juga hal tersebut dapat mengurangi tenaga kerja. Diharapkan sebagai generasi muda, kita dapat memanfaatkan perkembangan telematika ini dengan bijak.

Sumber :  http://wyoeholic.wordpress.com/2010/10/06/artikel-perkembangan-telematika/
                http://suciptoardi.wordpress.com/2008/05/15/perkembangan-telematika-di-indonesia/
                http://rappi-kama.blogspot.com/2011/12/makalah-perkembangan-telematika-di.html

Thursday, April 3, 2014

Bibliografi

Bibliografi berasal dari bahasa yunani yaitu bibliographia yang berarti penulisan buku. bibliografi berarti kegiatan teknis membuat deskripsi untuk suatu cantuman tertulis atau pustaka yang telah diterbitkan, yang tersusun secara sistematik berupa daftar menurut aturan yang dikehendaki. Dengan demikian tujuan bibliofrafi adalah untuk mengetahui adanya suatu buku/pustaka atau sejumlah buku/pustaka yang pernah diterbitkan.

Unsur-Unsur Bibliografi dan Contoh Penulisannya:
  • Nama Pengarang, yang dikutip secara lengkap
  • Judul Buku, termasuk judul tambahannya.
  • Data Publikasi: penerbit, tempat terbit, tahun terbit, cetakan ke berapa, nomor jilid buku dan tebal (jumlah halaman) buku tersebut.
  • Untuk sebuah artikel diperlukan pula judul artikel yang bersangkutan, nama majalah, atau surat kabar, tanggal dan    tahun.


 Penyusunan Bibliografi
  • Nama pengarang diurutkan berdasarkan urutan abjad.
  • Jika tidak ada nama pengarang, judul buku atau artikel yang dimasukkan dalam urutan abjad.
  • Jika untuk seorang pengarang terdapat lebih dari satu bahan refrensi, untuk refrensi kedua dan seterusnya, nama pengarang tidak diikutsertakan, tetapi diganti dengan garis sepanjang 5 atau 7 ketikan.
  • Jarak antara baris dengan baris untuk satu refrensi adalah satu spasi. Namun, jarak antara pokok dengan pokok lain adalah dua spasi.
  • Baris pertama dimulai dari margin kiri. Baris kedua dan seterusnya dari tiap pokok harus dimasukkan ke dalam sebanyak tiga atau empat ketikan.


Jenis-Jenis Bibliografi
Dari segi cara penyajian dan uraian deskripsinya, bibliografi dibagi menjadi:
  • Bibliogrfi deskriptif, yaitu bibliografi yang dilengakapi deskripsi singkat yang didapat dari gambaran fisik yang tertera atau tertulis dalam bahan pustaka. Seperti judul buku atau majalah, judul artikel, nama pengarang, data terbitan (impresium), kolasi serta kata kunci dan abstrak yang tertulis.
  • Bibliografi evaluatif, yaitu bibliografi yang dilengkapi dengan evaluasi tentang suatu bahan pustaka. Evaluasi ini biasanya mencakup penilaian terhadap isi suatu bahan pustaka atau artikel.


Cakupan Bibliografi
Dari segi cakupanya, bibliografi dapat dibagi menjadi:
  • Bibliografi retrospektif, yaitu jenis bibliografi yang mencatat bahan pustaka yang telah diterbitkan pada jaman yang lampau. Misalnya “Bibliografi sejarah perang Dipenogoro”
  • Bibliografi terkini/current, yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan yang sedang atau masih terbit saat ini. Contohnya Ulrich’s International Periodicals Directory.
  • Bibliografi selektif, yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan tertentu dengan tujuan tertentu. Misalnya “Buku bacaan terpilih untuk anak usia pra sekolah”.
  • Bibliografi subjek, yaitu jenis bibliografi yang mencatat bahan pustaka atau artikel pada bidang ilmu dan subjek tertentu. Misalnya “Bibliografi khusus ternak kelinci”.
  • Biliografi nasional, yaitu jenis bibliografi yang mencatat terbitan suatu negara atau daerah regional tertentu. Contohnya “Bibliografi Nasional Indonesia”.


Penentuan cakupan/topik suatu bibliografi ditentukan berdasarkan berbagai pertimbangan antara lain :
  • Permintaan pengguna
  • Topik yang sedang berkembang atau yang banyak diperlukan saat itu
  • Dokumentasi koleksi yang dimiliki
  • Mandat instansi


Bagian-bagian Bibliografi
Suatu deskripsi bibliografi biasanya terdiri dari :
  • Judul : berisi judul artikel atau judul buku yang akan dideskripsikan
  • Kepengarangan : berisi nama pengarang perorangan atau pengarang badan korporasi
  • Sumber : berisi judul jurnal, judul prosiding, atau judul buku dimana informasi tersebut berada.
  • Data terbitan (impresium): berisi data tentang kota terbit, nama terbit, dan tahun terbit
  • Keterangan fisik buku (kolasi), yang berisi halaman lokasi artikel ditemukan.
  • Keterangan informasi, seperti kata kunci dan abstrak
  • Keterangan tambahan , seperti lokasi rak penyimpanan, kode call number, perpustakaan pemilik bahan pustaka, dan sebagainya


Manfaat Bibliografi
Pencatatan informasi mengenai koleksi perpustakaan dalam bentuk bibliografi dilakukan dengan berbagai alasan antara lain:
  • Jumlah koleksi perpustakaan yang semakin meningkat bentuk dan bidang kajiannya
  • Kebutuhan informasi para pengguna yang semakin beragam dan meningkat jumlahnya
  • Upaya untuk meningkatkan kualitas layanan penelusuran informasi yang cepat dan tepat


Contoh bibliografi:
Kadir, Abdul. 2008. Dasar Pemrograman Web Dinamis Menggunakan PHP, Yogyakarta : Penerbit Andi.

Friday, March 14, 2014

Catatan Kaki & Kutipan

Catatan Kaki

Catatan kaki adalah daftar keterangan khusus yang ditulis di bagian bawah setiap lembaran atau akhir bab karangan ilmiah. Catatan kaki biasa digunakan untuk memberikan keterangan dan komentar, untuk menjelaskan sumber kutipan atau sebagai pedoman penyusunan daftar bacaan yang biasanya digunakan untuk menghargai karya orang lain.

Jenis-jenis Catatan Kaki:
1.      Ibid
Ibid singkatan dari Ibidium yang berarti “sama dengan di atas”.
Beberapa catatan mengenai penggunaan ibid:
·         Digunakan untuk menulis catatan kaki yang sumbernya sama dengan catatan kaki yang tepat di atasnya.
·         Tidak dipakai apabila telah ada catatan kaki lain yang menyelingnya.
·         Diketik atau ditulis dengan huruf capital pada awal kata, dicetak miring, dan diakhiri titik.
·         Apabila referensi berikutnya berassal dari jiid atau halaman lain, urutan penulisan: Ibid, koma, jilid, halaman.
2.      Op.cit
Op.cit singkatan dari opera cintati, yang artinya “dalam karya yang telah dikutip”.
Beberapa catatan yang terkait dengan penulisan op.cit adalah:
·         Merujuk buku sumber yang telah disebutkan dan diselingi sumber lain.
·         Ditulis dengan huruf kapital pada awal suku kata, dicetak miring, setiap suku diikuti titik.
·         Urutan penulissan: nama pengarang, nama panggilan atau nama family, Op.cit. nama buku, halaman.
3.      Loc.cit
Loc.cit singkatan dari loco cintati, artinya tempat yang telah dikutip.
Beberapa catatan mengenai loc.cit:
·         Digunakan umtuk merunjuk sumber data pustaka yang serupa yang berupa kumpulan esai, jurnal, ensiklopedi, atau majalah; dan telah diselingi sumber lain.
·         Kutipan bersumber pada halaman yang sama kata loc.cit tidak diikuti nomor halaman.
·         Jika halaman berbeda, kata loc.cit diikuti nomor halaman.
·         Menyebutkan nama keluarga pengarang.

Tata Cara Penulisan Catatan Kaki:
1.      Catatan kaki harus dipisahkan dengan garis yang panjangnya empat belas inch dari margin kiri serta berjarak empat spasi dari teks.
2.      Catatan kaki diketik berspasi satu.
3.      Diberi nomer.
4.      Nomer catatan kaki diketik dengan jarak enam inch dari margin kiri.
5.      Bila catatan kakinya lebih dari satu baris, maka baris kedua dan seterusnya serta diawali seperti margin teks biasa (pas pada margin kiri).
6.      Bila ada lebih dari satu catatan kaki, maka jarak pada satu catatan dengan catatan yang lain sama dengan jarak spasi teks.
7.      Jarak baris paling akhir catatan kaki harus 3 cm dari tepi kertas sisi bawah.
8.      Keterangan yang panjang tidak bisa dilanjutkan ke halaman selanjutnya. Sebaiknya potong catatan aslinya dari pada memotong catatan kaki.
9.      Bila keterangan yang sama berurutan (contohnya, keterangan nomor 2 sama juga dengan nomor 3) cukup catatkan kata ibid dari pada mengulang-ulang info catatan kaki.
10.  Bila ada keterangan yang sama namun tidak berurutan, berikanlah keterangan op. cit., lih atau x (nomor keterangan pada umumnya).
11.  Bila keterangan layaknya op.cit namun berisi keterangan perihal artikel, pakai loc. cit. untuk keterangan mengenai referensi artikel atau buku spesifik, penulisannya serupa daftar pustaka, namun nama pengarang tidak dibalik.

Contoh Catatan Kaki:
contoh 1:


contoh 2:


contoh 3 & 4:



Kutipan
Kutipan adalah suatu kata yang mungkin semua orang belum tahu apa maksudnya. Kutipan juga merupakan suatu gagasan, ide, pendapat yang diambil dari berbagai sumber. Proses pengambilan gagasan itu disebut mengutip. Gagasan itu bisa diambil dari kamus, ensiklopedi, artikel, laporan, buku, majalah, internet, dan lain sebagainya.
Tata Cara Penulisan Kutipan:
1.      Kutipan langsung
Kutipan yang kata-katanya utuh dikutip semua dari sebuah naskah oleh penulis tanpa merubah sedikitpun isi dari sebuah naskah tersebut.
a.       Tata cara dalam melakukan kutipan, jika kutipan panjangnya kurang dari empat baris dimasukan kedalam teks:
·         Diketik seperti ketikan teks.
·         Diawali dan diakhir dengan tanda petik.
·         Sumber rujukan ditulis langsung sebelum atau sesudah teks kutipan.
·         Format penulisan diakhiri (Penulis,Tahun:Halaman).
b.      Tata cara dalam melakukan kutipan, jika kutipan panjangnya lebih dari empat baris :
·         Diketik satu spasi.
·         Dimulai tujuh ketukan dari batas tepi kiri.
·         Sumber rujukan  ditulis langsung sebelum teks kutipan.
·   Apabila penulis ingin memberi penjelasan atau menggaris bawahi harus diberi keterangan yang berada diantara tanda kurung.
·         Apabila terdapat kesalahan dalam kutipan dinyatakan menggunakan (sic!).

2.    Kutipan tidak langsung
Kutipan yang kata-katanya diubah/ disesuaikan dengan ringkasan yang dibuat oleh penulis.
1.      Tata cara dalam melakukan kutipan:
                 ·         Kalimat yang mengandung ide kutipan ditulis dengan spasi rangkap.
                 ·         Semua kutipan harus dirujuk.
                 ·         Sumber rujukan dapat ditulis sebelum atau sesudah kalimat yang mengandung                            kutipan.
                 ·         Format penulisan diakhiri (Penulis,Tahun:Halaman).

Contoh Kutipan:


contoh 1:



 contoh 2:


contoh 3:

Tuesday, December 31, 2013

Sop Buntut Goreng




Bahan :
250 gr buntut sapi
500 ml air
10 gr jahe (kupas lalu keprek)
3 gr pala
2 buah kapulaga
2 buah cengkeh
2 btg daun bawang (potong 2 cm)
1 sdm minyak sayur
50 gr bawang bombay (cincang halus)
1/2 sdt garam
1/2 sdt lada
1/2 sdt kaldu instan
1 sdm kecap manis


Sambal :
3 buah cabai merah
5 buah cabai rawit
2 siung bawang putih
1 butir kemiri
2 buah bawang merah



Pelengkap :
Emping
Nasi putih



Cara membuat :
1. Rebus buntut dan air sampai mendidih. Buang busa-busa yang berwarna coklat. Rebus kembali sampai buntut empuk.
2. Siapkan panci, rebus kembali buntut dengan jahe, pala, kapulaga, cengkeh, daib bawang. Masak sampai buntut empuk.
3. Panaskan minyak, tumis bawang bombay sampai harum. Masukan bawang bombay ke dalam kaldu buntut. Tambahkan garam, lada, kaldu instan, dan kecap manis, masak sampai bumbu meresap. Angkat buntutnya, sisihkan.
4. Panaskan minyak, goreng buntut sampai berwarna kecokelatan. Angkat, tiriskan.
5. Sambal : rebus cabai merah, cabai rawit, bawang putih, bawang merah, kemiri, masak sampai layu dan matang. Haluskan.
6. Sajikan sop buntut goreng dengan nasi putih, emping, dan sambal.

Monday, December 30, 2013

Kesimpulan & Saran tentang Catatan Kaki, Daftar Pustaka & Kutipan

 Kesimpulan :
Catatan kaki, daftar pustaka dan kutipan merupakan satu kesatuan yang ada dalam bagan penulisan karangan atau karya ilmiah yang juga dijadikan sebagai kode etik dalam karangan ilmiah sehingga pembahasan serta informasi yang ada dalam buku karangan tersebut menjadi suatu bacaan informasi yang utuh dengan melibatkan banyak pendapat yang dikandungnya, dan juga pemikiran penulisan yang bertalian dalam pembahasannya.
Dari ketiga sumber referensi buku yang dibahas sebelumnya dapat disimpulkan bahwa buku yang paling baik adalah buku yang berjudul “Metode Survai” karena dibuku tersebut lengkap terdapat catatan kaki daftar pustaka dan kutipan. Dibandingkan dengan kedua buku yang lainnya karena kedua buku tersebut tidak ada catatan kakinya.
Saran :
Dalam aturan penulisan, baik karya ilmiah atau karangan sebaiknya tercantum catatan kaki, daftar pustaka hingga kutipan yang dijadikan sebagai kode etik dalam penulisan karangan ilmiah dan juga untuk menghormati dan menghargai karya orang lain yang dimasukkan ke dalam suatu tulisan, serta berfungsi sebagai bukti atas validnya suatu informasi yang sumber-sumber bacaannya telah dipublikasikan ataupun belum dipublikasikan. Penggunaan EYD yang baik dan benar dalam penulisan juga harus diperhatikan karena dengan menggunakan bahasa yang baik dapat mempermudah dalam membaca tulisan sang penulis dan dapat mengikuti alur pikirannya.


Resep Kue Cubit

Bahan :
- 4 butir telur ayam
- 150 gr gula pasir
- 3/4 sdm baking powder
- 300 gr tepung terigu (diayak)
- 50 gr gula pasir (dilelehkan)
- 100 ml air
- 50 gr meisess
- 1/4 sdm vanili


Cara membuat:
- kocok telur dan gula sampai kental/berwarna putih. Masukan tepung dan baking powder, aduk rata.
- tambahkan margarin, vanili, dan air. Aduk sampai rata dan diamkan selama 10 menit
- panaskan cetakan kue cubit dan oleskan margarin. Tuang adonan ke dalam cetakan. Setelah setengah matang, taburi meisess.
- tutup cetakan, tunggu hingga matang, dan sajikan.

Thursday, October 3, 2013

Menyelamatkan Jantung dengan Bahan Alami

Percutaneous coronary intervention (PCI) adalah prosedur non-bedah untuk menangani penyempitan pembuluh darah bagi penderita penyakit jantung koroner(PJK). Penyakit jantung koroner disebabkan penyempitan pembuluh darah jantung atau arteri koronaria. Supaya melebar, pembuluh darah diberi stent, semacam tabung atau ring yang dimasukan ke saluran pembuluh darah sehingga dapat menahan dan membuat pembuluh darah melebar.

Metode stent awalnya dilakukan oleh Andreas Grunzigh, pakar penyakit jantung dari Swiss keturunan Jerman, pada tahun 1977.penelitian yang dilakukan Grunzigh berupa pembalonan penyempitan pada pembuluh darah koroner manusia. Sejak saat itu, penelitian berlanjut hingga muncul stent jenis metal pada tahun 1988. Namun terdapat kelemahan pada stent berjenis metal ini, yaitu secara alamiah ada reaksi dari dalam tubuh terhadap benda asing(reaksi seluler). Pemasangan stent tersebut menyebabkan luka pada tubuh. Jika tubuh terluka, trombosit akan menutup luka tersebut, tetapi ini berbeda dari pelukaan di dalam tubuh. Trombosit tersebut akan menjadi trombosit aktif, yang akan mengaktifkan trombosit lain untuk menempel. Akibatnya, timbul gumpalan darah yang menggangu pembuluh darah yang dipasangi stent metal tersebut. Untuk mengatasi penggumpalan darah yang tidak diharapakan, pemasangan stent selalu disertai dengan pengenceran darah. Sekitar 2001, baru berkembang teknologi stent lapis obat yang sampai saat ini masih digunakan. Namun karena masih tetap menggunakan metal, tentu saja masih terdapat kelemahan, yaitu alat tersebut akan tetap berada di dalam tubuh seumur hidup dan jika terjadi penyempitan pembuluh darah lagi, harus dipasang stent kembali.

Teknologi stent terus berkembang hingga terciptanya bioresorbable vascular scaffold(BVS). Stent jenis ini tidak menggunakan bahan logam, tetapi berbahan polylactide acid, yaitu bahan alami seperti pati jagung, pati tapioca, atau pati tebu dan biasa digunakan dalam implan medis. Sebelum ada stent BVS, para dokter jantung umumnya menggunakan bare-metal stent dan drug-eluting stent(DES) untuk pasien penderita jantung koroner. BVS adalah stent yang memiliki resiko paling minim diatara stent-stent lainnya.

Secara teknis, pemasangan stent BVS tidak memiliki perbedaan dengan stent metal. Pasien penderita penyakit jantung koroner harus menjalani diagnostic angiography, suatu cara dimana dokter akan melihat langsung letak anatomi pembuluh darah, letak sumbatan, dan seberapa berat sumbatannya. Pemasangan BVS hanya memakan waktu sekitar 1 jam. Pasien pun hanya mendapat bius lokal dan dapat melihat proses PCI melalui monitor.

Sumber: Majalah Gatra edisi 49(11-17 oktober 2012)
Penulis: Mukhlison S. Widodo